TETRASIKLIN

TETRASIKLIN

 

Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan ialah klortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomyces aureofaciens, kemudian ditemukan oksitetrasiklin dari Streptomyces rimosus. Tetrasiklin sendiri dibuat secara semisintetik dari klortetrasiklin, tetapi dapat juga dapat diperoleh dari Streptomyces lain.

 

MEKANISME KERJA

 

Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terdapat 2 proses dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram negatif, pertama yang disebut dengan difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua adalah sistem transport aktif, Setelah masuk maka antibiotik berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya kompleks tRNA-asam amino pada lokasi asam amino.

 

EFEK ANTIMIKROBA

 

Golongan tetrasiklin termasuk antibiotik yang terutama bersifat bakteriostatik dan bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman.

 

Spektrum antimikroba

tetrasiklin memperlihatkan spektrum antibakteri yang luas yang meliputi kuman gram negatif dan gram positif, aerobik dan anaerobik, selain itu juga aktif  terhadap spirokaeta, mikoplasma, riketsia, klamidia, dan protozoa tertentu.  Pada umumnya tetrasiklin tidak digunakan untuk pengobatan infeksi Streptokokus karena ada obat lain yang lebih efektif yaitu Penisilin G, eritromisin, sefalosporin, kecuali doksisiklin. Banyak strain S.aureus yang resisten terhadap tetrasiklin.

Tetrasiklin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin dalam pengobatan infeksi batang gram positif seperti B.anthracis, Erysiphelothtix rhusiopathiae, Clostridium tetani dan Listeria monocytogenes. Kebanyakan strain N.gonorrhoeae sensitif terhadap tetrasiklin, tetapi N.gonorrhoeae penghasil penisilinase biasanya resisten terhadap tetrasiklin. Efektivitasnya tinggi terhadap infeksi batang gram negatif seperti Brucella, Pseudomonas, Vibrio cholerae, Campylobacter fetus, Haemophilus cauleryi, Yersinia pestis, Pasteurella multocida, Bordetella pertusis. E.coli, Klebsiella, Enterobacter dan Proteus umumnya resiten. Dalam kadar tinggi tetrasiklin dapat menghambat Entamoeba hystolitica. Ttetrasiklin juga merupakan obat yang efektif untuk infeksi Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia trachomatis, Chlamydia psittaci, Treponema pallidum, Actinomycess israelii dan berbagai riketsia.

 

FARMAKOKINETIK

Absorbsi. Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam saluran cerna. Doksisiklin dan minosiklin diserap lebih dari 90%. Absorbsi ini sebagian besar berlangsung di lambung dan usus halus bagian atas. Adanya makanan dalam lambung menghambat penyerapan golongan tetrasiklin, kecuali minosiklin dan doksisiklin.

Distribusi. Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang bervariasi. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri dan terdapat dalam ASI dalam kadar yang relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, doksisiklin dan minosiklin daya penetrasinya ke jaringan lebih baik.

 

Ekskresi. Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin dengan filtrasi glomerulus dan melalui empedu.

 

Antibiotik  golongan tetrasiklin dibagi menjadi 3 golongan berdasarkan sifat farmakokinetiknya:

  1. Tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin. Absorbsi kelompok tetrasiklin ini tidak lengkap dengan masa paruh 6-12 jam.
  2. Demetilklortetrasiklin. Absorbsinya lebih baik dan masa paruhnya kira-kira 16 jam sehingga cukup diberikan 150mg per oral tiap 6 jam.
  3. Doksisiklin dan minosiklin. Absorbsinya baik sekali dan masa paruhnya 17-20 jam.

 

EFEK SAMPING

Reaksi kepekaan. Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin ialah urtikaria.

Reaksi toksik dan iritatif. Iritasi lambung paling sering terjadi pada pemberian per oral, terutama oksitetrasiklin dan doksisiklin. Makin besar dosis yang diberikan maka sering reaksi ini terjadi. Keadaan ini dapat diatasi dengan mengurangi dosis untuk sementara waktu atau memberikan tetrasiklin  bersama dengan makanan tetapi jangan dengan susu atau antasid  yang mengandung aluminium, magnesium atau kalsium. Diare juga dapat timbul akibat iritasi. Terapi dalam waktu lama juga dapat menimbulkan kelainan darah tepi seperti leukositosis, trombositopenia. Pigmentasi kuku dan onikolisis, yaitu lepasnya kuku dari dasarnya juga dapat terjadi. Hepatotoksisitas pada pemberian dosis tinggi (lebih dari 2 g perhari) dan paling sering terjadi pada pemberian parenteral. Oksitetrasiklin dan tetrasiklin mempunyai sifat hepatotoksik yang paling lemah dibandingkan golongan tetrasiklin yang lain. Golongan  tetrasiklin kjuga menghambat koagulasi darah. Tetrasiklin terikat pada jaringan tulang yang sedang tumbuh dan membentuk kompleks. Pertumbuhan tulang akan terhambat pada fetus dan anak. Bahaya ini terjadi pada pertengahan masa hamil sampai anak berumur 3 tahun. Pada gigi susu maupun gigi tetap  tetrasiklin menyebabkan disgenesis, perubahan warna permanen dan kecebnderungan terjadinya karies. Karena itu tetrasiklin jangan digunakan mulai pertengahan kedua kehamilan sampai anak berumur 8 tahun, efek ini terlihat lebih sedikit pada oksitetrasiklin dan doksisiklin.

 

 

EFEK SAMPING AKIBAT PERUBAHAN BIOLOGIK

 

Seperti antibiotik lain yang berspektrum luas, pemberian golongan tetrasiklin kadang-kadang diikuti oleh terjadinya superinfeksi oleh kuman resisten dan jamur. Superinfeksi kandida biasanya terjadi pada rongga mulut, faring bahkan kadang-kadang menyebabkan infeksi sistemik. Faktor predisposisi yang memudahkan terjadinya superinfeksi adalah  daya tahan tubuh yang lemah dan pasien yang mendapatkan terapi  kortikosteroid dalam waktu lama. Salah satu manifestasi superinfeksi ialah diare akibat terganggunya keseimbangan flora normal dalam usus.

 

Untuk memperkecil kemungkinan timbulnya efek non terapi  golongan tetrasiklin maka perlu diperhatikan beberapa hal:

  1. Hendaknya tidak diberikan pada wanita hamil
  2. Bila tidak ada indikasi yang kuat jangan diberikan pada anak-anak
  3. Hanya doksisiklin yang boleh diberikan kepada pasien gagal ginjal
  4. Sisa obat yang tidak terpakai hendaknya segera dibuang
  5. Jangan diberikan pada pasien yang hipersensitif.

 

PENGGUNAAN KLINIK

 

  1. Riketsiosis. Perbaikan yang dramatik tampak setelah pemebrian golongan tetrasiklin. Demam mereda dalam 1-3 hari dan ruam kulit menghilang dalam 5 hari. Perbaikan klinis yang nyata telah tampak 24 jam setelah terapi dimulai.
  2. Infeksi Klamidia. Untuk jenis ini tetrasiklin merupakan obat pilihan utama. Pada infeksi akut, diberikan terapi selama 3-4 minggu dan untuk keadaan kronis diberikan terapi 1-2 bulan. Empat hari setelah diberikan, bubo mulai mengecil.
  3. Psitakosis. Pemberian tetrasiklin dalam beberapa hari dapat mengatasi gejala klinis.
  4. Inclusion conjungtivitis. Penyakit ini dapat diobati dengan hasil baik selama 2-3 minggu dengan memberikan salep mata atau obat tetes mata yang mengandung tetrasiklin,
  5. Trakoma. Pemberian salep mata golongan tetrasiklin yang dikombinasikan dengan doksisiklin oral selama 40 hari memberikan hasil pengobatan yang baik.
  6. Infeksi Mycoplasma pneumoniae. Walaupun penyembuhan klinis cepat dicapai M.pneumoniae mungkin tetap terdapat dalam sputum setelah obat dihentikan.
  7. 7.             Bruselosis.
  8. Kolera. Tetrasiklin adalah obat yang efektif untuk penyakit ini.
  9. Actinomycosis. Golongan tetrasiklin dapat dignakan untuk mengobati penyakit ini bila penisilin G tidak bisa diberikan pada pasien.
  10. Infeksi saluran cerna. Tetrasiklin mungkin merupakan ajuvan yang bermanfaat pada amubiasis intestinal akut dan infeksi Plasmodium falciparum. Selain itu mungkin efektif untuk disentri yang disebabkan oleh strain Shigella yang peka.

 

SEDIAAN

 

  1. Tetrasiklin, tetrasiklin Hcl dan kompleks(tablet, obat suntik IM dan IV, salep/obat tetes mata ) dosis: kuda,sapi,biri-biri, babi 2,2-4,4 mg/kgbb/im   anjing, kucing 4,4-11 mg/kgbb/im
  2. Klortetrasiklin (kapsul, salep kulit dan mata) dosis hewan kecil 25-50 mg/kgbb/hr. Dosis hewan  besar 10-20 mg/kgbb/hr
  3. Oksitetrasiklin (kapsul, obat suntik IM, IV, salep kulit dan salep mata) Dosis :anjing, kucing 7-11 mg/kg bb injeksi. Kuda, kambing, sapi, biri-biri, babi 5-10 mg/kg bb injeksi
  4. Demeklosiklin (kapsul atau tablet, sirup)
  5. Doksisiklin (kapsul atau tablet, sirup) dosis 5-7 mg/kg bb/p.o
  6. Minosiklin (sirup)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s