Infeksi Cacing

A. Latar Belakang
Permintaan konsumsi daging dan produk-produk peternakan dalam negeri semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan daya beli serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pemenuhan gizi.
Dengan meningkatnya permintaan tersebut, memberikan peluang untuk berkembangnya usaha agribisnis peternakan, khususnya sapi, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan sebagai tenaga kerja . sapi juga dapat digunakan untuk menarik gerobak, kotoran sapi juga mempinyai nilai ekonomis, karena pupuk organik termasuk yang dibutuhkan hampir semua tumbuhan. Kotoran sapi juga dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih subur dan gembur.
Sapi adalah bangsa Bos taurus berasal dari daerah Simme di negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan Amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor ber warna putih, sapi jantan dewasanya mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang betina dewasanya 800 kg (Erlangga, 2009).
(Mayulu dkk., 2010) juga mengatakan Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50 persen (45-55persen) kebutuhan daging di dunia, 95 persen kebutuhan susu dan 85 persen kebutuhan kulit. Kebutuhan akan konsumsi daging sapi setiap tahun selalu meningkat. Sementara itu pemenuhan akan kebutuhan selalu negatif, artinya jumlah permintaan lebih tinggi daripada peningkatan daging sapi sebagai konsumsi (Mayulu dkk., 2010).
Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).
Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.
Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.
Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas
Cacingan adalah suatu penyakit yang dapat mengganggu produktivitas ternak dan bahkan dapat menyebabkan kematian. salah satunya adalah toxocariasis merupakan penyakit yang banyak ditemukan di negara tropik dengan kelembaban tinggi.
Dengan melihat kerugian yang ditimbulkan penyakit cacingan tersebut khususnya infeksi toxocariasis yang disebabkan oleh cacing Toxocara vitulorum, maka usaha pengendalian parasit tersebut merupakan hal utama, sebab jika dibiarkan maka infeksi Toxocara vitulorum akanterus merajalela dan akan menghambat perkembangan hewan ternak tersebut
Makalah ini dimaksudkan untuk mengetahui apa dan bagaimana cara penanganan yang dapat dilakukan. Agar pembaca bisa memahami dan mempraktekkan cara tersebut sehingga diharapkan ternak tersebut bisa berkembang dengan optimal.

PEMBAHASAN
B. Nematoda
Nematoda yang sering disebut cacing gilig biasanya lebih kecil bila dibandingkan dengan cacing pipih. Banyak diantara nematoda adalah mikroskopis. Cacing ini sangat aktif dan ramping, biasanya kedua ujungnya runcing dan mempunyai mulut dan anus. Jadi mempunyai saluran pencernaan yang lengkap (Noble dan Noble, 1982). Bentuk cacing gilig secara umum adalah silindris memanjang, tidak bersegmen dan meruncing pada ujung posterior (Soulsby, 1982).
Indonesia terletak di daerah tropis , sehingga hujan di kebanyakan daerah sifatnya merata dan berlangsung sepanjang musim hujan, serta tidak ada hujan selama musim kering (kelembaban berkisar 60-80 %). Hal tersebut memungkinkan distribusi parasit tertentu secara horizontal serupa, tetapi secara vertical berbeda. Selain itu, telur cacing Nematoda biasanya lebih tahan terhadap suhu yang lebih tinggi daripada cacing Trematoda dan Cestoda, tetapi sebagai larva invektif adalah sebaliknya, yaitu larva Nematoda lebih tidak tahan terhadap panas daripada larva Trematoda dan Cestoda (Brotowidjojo, 1987).
Suhu minimum dan maksimum penting untuk meramalkan kelangsungan siklus hidup parasit di luar tubuh hospes, sebab suhu minimum dan maksimum itu sangat besar variasinya untuk tiap tempat. Di Indonesia, beda suhu minimum dan maksimum berkisar antara 100-150 C, sedang di daerah beriklim sedang mencapai 260-300 C, sehingga kelangsungan hidup parasit di luar tubuh hospes di Indonesia lebih aman daripada di daerah beriklim sedang. Namun perlu diingat bahwa suhu maksimal tanah di Indonesia pada siang hari yang terik dapat mencapai 560 C, karena itu disamping pengaruh langsung ultraviolet, tingginya suhu siang hari di daerah kering dapat mematikan parasit di luar tubuh hospes (Brotowidjojo, 1987).
C. Toxocara vitulorum
Hampir di seluruh bagian dunia terdapat cacing Toxocara. Hewan-hewan yang dipelihara dalam alam terbuka menjadi sakit karena telur yang dibebaskan dapat bertahan berbulan-bulan. Infeksi hewan-hewan yang dipelihara demikian selalu lebih tinggi daripada yang dipelihara dalam kandang yang bersih (Subronto, 2004).
Toxocara vitulorum atau Neoascaris vitulorum terdapat pada usus halus sapi dan ruminansia besar lainya. Cacing tersebut mempunyai 3 bibir tanpa papilla, yang jantan 15-26 mm dan berdiameter 3-5 mm, dengan ekor kecil, mirip paku besar, serta spikulum yang panjangnya 950-1250 mikron. Cacing betina 22-30 cm dan berdiameter 5-6 mm, dengan telur berdinding tebal berbintik bintik dan agak bulat berukuran 68-101x 60-86 mikron (Levine, 1994).

1. Daur Hidup
Cacing askaris yang terdapat hampir di semua bagian dunia biasanya lebih sering ditemukan pada kandang-kandang sudah tercemar oleh parasit tersebut. Peternakan sapi yang sudah tercemar biasanya tidak segera dapat dibebaskan dari parasit karena sulitnya memutus mata rantai daur hidup disebabkan antara lain karena tebalnya dinding telur cacing. Hewan-hewan yang ditempatkan di kandang yang bersih lebih mudah dihindarkan dari askariasis. Sebaliknya hewan-hewan yang lebih banyak hidup di luar atau di padang pengembalaan lebih mudah terinfeksi.
Daur hidup berbagai jenis askaris semuanya hampir sama, kecuali pada T. vitulorum yang infestasinya melalui kolostrum. Cacing dewasa hidup di bagian depan usus halus dan sanggup membebaskan telur dalam jumlah banyak. Seekor cacing betina mampu bertelur sebanyak 200.000 telur/hari. Telur dibebaskan bersama tinja sangat tahan terhadap udara dingin, panas dan kekeringan. Pernah dicatat bahwa di alam yang serasi telur askaris sanggup hidup sampai 5 tahun. Di tempat yang lembab dan hangat telur mengalami embrionase hingga terbentuk larva stadium kesatu, kedua dan ketiga. Stadium terakhir tersebut yang dicapai dalam beberapa minggu bersifat infektif dan dapat menyebabkan hospes lain tertular. Larva jarang menetas di luar telur dan yang paling umum adalah penetasan setelah telur infektif tertelan bersama makanan atau air minum. Setelah telur menetas di dalam usus halus, larva yang bebas bermigrasi dengan jalan menembus dinding usus, yang selanjutnya mencapai vena porta hepatitis, hati, dan dengan mengikuti aliran darah sampai di bronchus, paru-paru, tenggorokan dan kemudian pindah ke pharynx. Dengan ikut makanan, air minum atau saliva akan sampai di usus halus lagi untuk bertumbuh menjadi dewasa. Waktu yang diperlukan oleh larva dalam mencapai hati biasanya lebih kurang 24 jam sejak telur infektif tertelan, dan untuk mencapai usus 3-4 minggu, sedang untuk menjadi dewasa sampai bertelur lebih kurang 5 minggu. Dengan demikian bila dihitung sejak infestasi pertama sampai mampu bertelur diperlukan waktu lebih kurang 8-9 minggu. Pedet memperoleh larva T. vitulorum induknya melalui kolostrum, hingga pada umur 10 hari telah mengandung cacing dewasa, sedangkan telur cacing dapat ditemukan pada umur 2-3 minggu. Waktu pedet umur 5 bulan cacing dewasa mungkin dikeluarkan secara spontan (Subronto, 2004).

2. Patogenesis
Migrasi larva di dalam di dalam hati atau usaha penyerapan oleh jaringan hati terhadap larva yang mati, meninggalkan jejas berwarna putih di bawah kapsula hati. Bila infestasi larva cukup berat. Jejas fibrotic terlihat dominan. Kerusakan jaringan yang berat biasanya dialami oleh paru-paru hingga alveoli dapat mengalami luka dengan oedema atau mengalami pemadatan (konsolidasi).
Larva migrans dapat merangsang pembentukan antibodi yang dapat dideteksi di dalam kolostrum dan serum. Adanya antibodi dapat untuk mencegahagar jumlah cacing dewasa tidak berlebihan. Atau dalam keadaan tertentu dapat menghasilkan self-cure.infestasi larva dalam jumlah besar dapat menyebabkan penurunan motilitas usus (Subronto, 2004).

3. Gejala-gejala
Pada semua spesies hewan-hewan muda bersifat rentan terhadap infeksi cacing askaris. Pedet sampai umur 5 bulan banyak yang menderita cacingan bila sanitasi induk tidak terjaga hingga infeksi T. vitulorum berlangsung melalui kolostrum. Tidak mustahil jika jumlah cacing dewasa cukup banyak di dalam usus halus dapat terjadi obstruksi saluran empedu hingga terjadi ikterus. Kematian mendadak dapat terjadi bila cacing-cacing penyumbat menyebabkan robeknya usus.
Selain gambaran di atas pedet dapat menderita diare, tidak bertumbuh dengan baik, lemah, anemic, dan tinjanya bercampur lemak. Hewan-hewan dewasa kadang tidak memperlihatkan gejala klinis yang jelas kecuali pertumbuhannya yang kurang baik. Hewan-hewan tersebut selalu menjadi sumber penularan bagi hewan muda di sekitarnya (Subronto, 2004).

4. Pemeriksaan patologi klinis
Telur T. vitulorum yang berbentuk bulat dan berdinding tebal ditemukan dalam jumlah besar pada penderita askaris yang memperlihatkan gejala klinis. Pada awal infestasi cacing pemeriksaan darahnya sering ditemukan eosinifilia. Eosinofilia persisten diamati pada pedet selama lebih dari satu tahun. Apabila jumlah telur mencapai 1000 epg tinja menunjukkan bahwa infeksi cacing askaris bersifat berat (Subronto, 2004).
5. Pemeriksaan patologi anatomi
Gambaran seksi penderita yang mati karena askariasis bervariasi tergantung pada tingkat penyakitnya. Pada stadium awal hati tampak membesar dan mengalami kongesti, dan mungkin disertai perdarahan subskapuler. Secara mikroskopik terlihat jejas nekrotik memanjang oleh perjalanan larva di dalam hati. Perdarahan juga ditemukan pada lapisan di bawah pleura, paru-paru tampak oedematous dan sianotik.
Pada askariasis yang kronik bacak-bacak putih yang ukurannya bervariasi terdapat pada kapsul hati, dan dalam keadaan lebih jauh bacak-bacak tersebut bergabung hingga ukuranya jadi lebih besar. Secara mikroskopik jaringan nekrotik akan digantikan oleh jaringan fibrous. Jaringan-jaringan otot dan jaringan lunak lainnya terlihat ikterik. Cacing dewasa dapat ditemukan dalam saluran usus halus. Apabila jumlahnya demikian banyak kadang-kadang cacing dewasa juga terdapat di dalam lambung usus besar dan rektum (Subronto,2004).

6. Diagnosis
Di lapangan askariasis dipertimbangkan bila individu muda tidak bertumbuh baik disertai diare tanpa adanya demam. Hewan dewasa kadang-kadang tidak memperlihatkan gejala sama sekali. Hingga pemeriksaan laboratorik harus dilakukan. Pada pedet askariasis perlu dibedakan dari koksidiosis maupun penyebab diare yang lain termasuk malnutrisi.

7. Pencegahan dan pengendalian
Untuk mengatasi dan mencegah cacing T. vitulorum puluhan obat telah diproduksi dan dipasarkan seperti : Piperazin dan derivate-derivatnya. Obat cacing piperazin memiliki batas keamanan yang cukup tinggi dan terhadap cacing askariasis afektifitasnya mencapai 100%. Sapi muda dibawah umur tiga bulan hampir pasti menderita cacingan , dan dapat diatasi dengan baik dengan piperazin. Garam-garam adipat. Fosfat, sulfat tartrat dan hidrokhloride dari piperazin bersifat lebih stabil daripada piperazin basis dan derivat tetrahidropirimidin. Pirantel dan morantel memiliki efek nicotin-like, sehingga cacing akan lumpuh, dan selanjutnya dapat dikeluarkan bersama tinja. Pirantel yang di pasarkan meliputi garam tartrat, pamoat dan emboat (Subronto, 2004).

PENUTUP
Infeksi Toxocara vitulorum dapat merugikan secara ekonomi karena menyebabkan pertumbuhan yang kurang baik dan penurunan kondisi fisik sapi. Untuk mengidentifikasi telur cacing askariasis adalah berdinding tebal, agak bulat dan berbintik-bintik. Uji withlock digunakan untuk memeriksa ada tidaknya telur cacing nematoda. Dalam mencegah masuknya parasit Toxocara vitulorum tindakan yang harus dilakukan adalah memperketat biosekuriti, selalu menjaga kebersihan lingkungan dan kandang, hewan ternak harus dilakukan pemberian obat cacing secara berkala, terhadap sanitasi kandang agar bebas dari parasit tersebut dan menjaga kebersihan pakan yang akan diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjojo, M. D. 1987. Parasit dan Parasitisme. Edisi I. PT. Melton Putra, Jakarta. Hal : 90-91, 264-267
Erlangga. 2009. Sapi Simental, (Online), (http://www.infoternak.com, diakses 26 November 2011).

Levine Norman D. 1990. Buku pelajaran parasitologi veteriner. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Noble, E.R dan Noble, G.A. 1982. Parasitology. The Biology of Animal Parasities. Edisi ke-5. Lea & Febiger. Philadelphia.
Subronto dan Ida Tjahajati. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Soulsby. E.J.L, 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animal. 7th edition. The English Language Book Society and Bailliere Tindal, London.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s