Kebuntingan Kucing

Kebuntingan Pada Kucing

06.39 | Fisiologi , Kemajiran dan Kebidanan
Image
Pendahuluan
Kebuntingan normal dan abnormal pada kucing domestik dipelajari untuk membantu dokter hewan yang bekerja di breeder kucing dan juga sebagai acuan untuk mempelajari fisiologi reproduksi dari kucing non domestik. Artikel ini mengulas tentang kondisi fisiologi dan endokrinologi serta abnormalitas kebuntingan pada kucing domestik.

Endokrinologi kebuntingan
Tiga hormon yang penting selama kebuntingan adalah estradiol-17β, LH dan progesterone yang masing-masing disekresikan dalam kadar yang berbeda selama masa kebuntingan induk kucing.

Estrogen
Pada awal kebuntingan, kadar dari estradiol-17β dalam darah berfluktuasi sepanjang baseline, dan akan meningkat pada satu minggu sebelum partus [1]. Kadar dari LH dalam darah juga berfluktuasi sepanjang baseline pada awal kebuntingan dan kadarnya akan semakin turun sampai waktu partus [1].

Progesteron
Kadar progesterone akan naik setelah terjadi ovulasi spontan atau ovulasi induksi dan akan selalu ada selama masa kebuntingan untuk menjaga kebuntingan. Sumber penghasil progesteron pada kucing berbeda-beda pada banyak penelitian. Pada salah satu penelitian menyebutkan bahwa induk kucing hamil yang diovariektomi pada usia kebuntingan 45-49 tidak terjadi kebuntingan, hal ini menunjukan bahwa ada penghasil progesterone di luar ovarium [2]. Ini juga diperkuat dengan adanya enzim yang penting untuk produksi progesteron pada plasenta kucing, ini menunjukan bahwa plasenta fetus juga dapat sebagai penghasil progesteron selama kebuntingan [3]. Pada penelitian lain ditunjukan bahwa induk kucing yang diovariektomi pada usia kebuntingan 30-45 hari terjadi penurunan kadar progesterone yang kemudian terjadi abortus, bagaimanapun juga kebuntingan dapat dijaga dengan memberikan suplemen progesterone pada induk kucing setelah diovariektomi [4]. Prolaktin merupakan nama lain dari LTH [5]. Penghambatan sekresi prolaktin dengan obat-obatan seperti cabergoline pada pertengahan kebuntingan akhir akan menyebabkan turunnya kadar progesteron dalam darah dari 80% sampai dengan 100% pada induk kucing yang diikuti dengan terjadinya abortus [4] dan [6], hal ini menunjukan bahwa CL merupakan sumber utama penghasil progesteron selama kebuntingan kucing.
Progesteron dari manapun dihasilkan selama kebuntingan kadarnya berkisar antara 11-60 ng/ml pada awal kopulasi dan akan turun sampai kadar terendah pada saat partus [1].

Karakteristik kebuntingan normal
Litter size
Rata-rata litter size pada kucing adalah 4.0 anak kucing per litter [1], [7], [8], dan [9], dan bervariasi tergantung pada jenisnya. Banyaknya perkawinan tidak ada hubungannya dengan litter size [8]. Pernah dilaporkan dalam satu indukan melahirkan 18 anak kucing melalui ovariohysterectomi [10]. Pada kebuntingan normal induk kucing diamati cervix uterus tidak jelas selama diestrus dan kebuntingan dan juga tidak ada perubahan pada vulva [11]. Pada akhir kebuntingan anemia normosistik dan normokromik dengan reticulocytosis sering terjadi [12].

Lama kebuntingan
Lama kebuntingan pada kucing domestik, dari hari pertama atau terakhir kali kawin sampai terjadinya partus rata-rata 65.6 hari, dengan range antara 52-74 hari [1], [7], [9], dan [13]. Lama kebuntingan kurang dari 60 hari menunjukan terjadinya penurunan daya hidup dari keturunannya. Adanya variasi lama kebuntingan dapat disebabkan oleh jenis kucingnya, pada kucing Siam rata-rata 63 hari dan pada kucing Persi adalah 65 hari [8]. Selain itu lama kebuntingan juga dapat disebabkan oleh variasi spesies dan secara umum lama kebuntingan ada hubungannya dengan ukuran badan dari kucing.

Diet selama kebuntingan
Selama kebuntingan, kebutuhan akan protein akan meningkat, terutama untuk asam amino-arginin, lisin, dan triptophan [9] dan [14]. Induk kucing bunting membutuhkan lebih banyak diet protein dari pada karbohidrat [15]. Minimal diet untuk induk kucing bunting harus mengandung 32% protein dan 18% lemak [9]. Menjelang partus, induk kucing harus mendapatkan protein sebanyak 12-38% dari berat badannya sebelum bunting [7].
Multipel pejantan dan multipel umur pada litter
Superfekundasi, terjadi pada keturunan yang berasal lebih dari satu pejantan dalam satu indukan dan hal ini sering terjadi pada kucing. Superfetasi, secara bersamaan tampak pada keturunan yang berbeda umur kebuntingannya di dalam uterus dan hal ini jarang terjadi pada kucing domestik [10], [16], dan [17]. Untuk terjadinya superfetasi, konsepsi harus terjadi setelah folikel tersier diinduksi dengan kopulasi untuk terjadinya ovulasi pada kucing betina bunting. Periode pertumbuhan folikel terjadi pada fase luteal pada kucing dan ovarium dapat merespon gonadotropin pada pertengahan masa kebuntingan [19], sehingga kucing masih menunjukan gejala estrus atau tingkah laku kawin selama kebuntingan dengan kadar estradiol dan LH yang tidak signifikan dalam darah. Hal ini menunjukan bahwa aktivitas estrus tidak ada korelasinya dengan endokrinologi atau fisiologi dari kemampuan fertilitas [20].

Abnormalitas kebuntingan
Eclampsia
Eclampsia atau hypokalsemia sering terjadi pada kucing yang melakukan laktasi pada anak kucing dalam jumlah banyak dan pernah juga terjadi pada kucing bunting 3-17 hari sebelum partus [21]. Tidak ada korelasi antara diet dengan terjadi eclampsia. Gejala dari eclampsia tidak spesifik meliputi kelesuan, anoraksia, faskulisasi dan tremor pada otot, dehydrasi, kelelahan, kepucatan, hypothermia, dyspnea dan atau tachypnea dan bradicardia. Diagnosa dapat dilakukan dengan melihat adanya abnormalitas dari kadar kalsium dalam darah yang rendah. Hal itu menyebabkan adanya gangguan pada kucing terutama dalam hal pengaturan kalsium dalam darah sehingga kucing perlu mendapatkan tambahan kalsium secara per oral selama satu bulan setalah partus.

Kebuntingan ectopic
Kebuntingan ectopic terjadi karena perkembangan satu atau beberapa fetus diluar uterus. Pada kebuntingan ectopic primer perkembangan zigot yang meliputi fase embrionik dan fase fetus berada di luar uterus. Pada kebuntingan ectopicsekunder terjadi perkembangan fetus di cavum abdomen setelah dinding uterus mengalami ruptur yang disebabkan karena trauma. Pada suatu kasus, kebuntinganectopic pada kucing dilaporkan tidak mungkin ada anak kucing hidup di luar uterus, akan tetapi banyak kejadian yang melaporkan adanya mummifikasi dan maserasi fetus di cavum abdomen [22], [23], [24], [25] dan [26]. Kebanyakan kebuntinganectopic, fetusnya aseptik dan dapat menyebabkan gejala klinis pada kucing seperti gastrointestinal (vomitus anoreksia), urinari (hematuria, poliuria dan urinasi tidak pada litter box) dan juga adanya gejala yang tidak spesifik seperti depresi dan kelesuan. Diagnosa dilakukan dengan abdominal radiograpi atau USG. Treatment yang sering dilakukan yaitu dengan operasi untuk membuang jaringan fetus.

Torsi uteri
Torsi satu atau kedua kornu uteri jarang terjadi pada induk kucing akan tetapi dapat terjadi pada kebuntingan akhir, pada minggu kelima sampai dengan partus. Torsi unilateral lebih sering ada, ini terjadi pada 93% dari kasus yang ada [27]. Hal ini terjadi karena adanya aktivitas fetus atau gerakan dari induk yang menyebabkan kornu uteri berputar mengelilingi sepanjang axis [27] dan [28]. Derajat perubahan dari torsi uteri bervariasi mulai dari 180° sampai 900° dan akan menyebabkan gejala klinis yang bervariasi sesuai dengan derajat perubahan dari torsi uteri [29]. Gejala klinis meliputi perubahan pada selaput lendir, hemoragi pada vulva, rasa sakit pada abdomen dan atau distensi abdomen, hypothermia, tachycardia dan kepucatan serta distokia [27], [29] dan [30]. Kondisi tersebut didiagnosa dengan menggunakan USG pada abdomen. Diagnosa dapat diperkuat dengan USG menggunakan pengecatan Doppler atau dengan explorasi laparotomi. Opsi terakhir untuk treatment yaitu dengan operasi.

Keguguran
Keguguran dapat disebabkan oleh agen infeksi atau non-infeksi. Agen infeksi meliputi bakteri, virus dan protozoa.

Bakteri
Bakteri yang menyebabkan pregnancy loss jarang sekali dilaporkan terjadi pada kucing. Contohnya pada kasus distokia dan stillbirth pada anak kucing biasanya disebabkan karena adanya asosiasi antara kondisi lingkungan dengan kontaminasi dari Salmonella typhimurium, yang berasal dari pakan kasar untuk semua kucing di tempatnya [31]. Kemudian pada kasus yang lain, percobaan dengan menggunakan infeksi dari Bartonella henselae akan menyebabkan terjadinya sub-fertilitas pada induk kucing, akan tetapi bakteri tidak menular lewat kopulasi, tranplasenta atau lewat colostrum dan susu.

Virus
Feline leukemia virus
Feline leukemia virus merupakan retrovirus yang menural secara horisontal dan sering ditemukan pada kucing yang diperbolehkan berkeliaran bersama kucing lain di luar rumah atau dalam satu rumah terdapat banyak kcing. Apabila terjadi infeksi feline leukemia virus akan menyebabkan abortus secara epidemik dalam suatu cattery [33]. Manajemen untuk mengontrol feline leukemia virus yaitu dengan melakukan uji serotipe pada semua kucing dalam suatu cattery dan menyingkirkan kucing yang terbukti positif [34]. Kucing dengan sejarah pernah terinfeksi feline leukemia virus dapat menyebarkan penyakit ini, oleh karena itu program vaksinasi dan treatment yang baik sangat penting untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit [35].

Feline immunodeficiency virus
Feline immunodeficiency virus (FIV) merupakan penyebab lain dari keguguran pada induk kucing. Pada suatu penelitian, induk kucing normal menghasilkan rata-rata 3.8 anak kucing dan 1 dari 31 konsepsi yang gagal sedangkan induk kucing yang terinfeksi FIV hanya menghasilkan 2.7 anak kucing dan 15 dari 25 konsepsi yang gagal, selain itu 14 dari 15 plasenta tampak adanya FIV. FIV dapat ditularkan secara horisontal dengan kontak langsung melalui gigitan maupun tidak langsung melalui sekresi susu dan semen [38]. Dengan vaksinasi sebagai kontrol untuk penyebaran infeksi FIV dapat mencegah terjadinya keguguran pada kucing.

Feline enteric corona virus
Feline enteric corona virus (FcoV) merupakan virus yang ada dimana-mana yang dapat menyebabkan feline infeksi peritonitis (FIP) pada beberapa kucing [39] dan [40]. FCoV itu endemic pada kebanyakan jenis kucing rumahan, dengan prevalensi serotipe 75-100% [40]. Setelah FcoV masuk dalam tubuh kucing 10% akan mengalami FIP, 13% menjadi sembuh dan carier serta sisanya 77% menjadi terinfeksi, virus dapat tahan di dalam feses selama beberapa bulan dan baru kemudian hilang yang dapat dengan mudah dapat menimbulkan infeksi kembali [41]. Fasilitas untuk kucing dengan titer FCoV yang tinggi sering menyebabkan terjadinya kegagalan reproduksi, abortus dan kematian fetus pada saat lahir [33]. Karena virus ini ada dimana-mana, menejemen pencegahannya dengan test dan removal program. Semua kucing yang ada di fasilitas harus ditest setiap 3-6 bulan dan hewan dengan test positif kandangnya harus dipisahkan dari hewan yang hasil testnya negatif. Induk dengan serotipe positif harus dikawinkan dengan pejantan yang serotipenya positif dan juga sebaliknya. Semua kucing yang keluar dari breeder harus disertai dengan surat yang menunjukan status serologisnya. Untuk mencegah penyebaran FCoV, litter box digunakan hanya untuk satu atau dua kucing, bersihkan semua litter box setidaknya sehari sekali dan didesinfektan satu minggu sekali, jauhkan litter box dari tempat pakan dan bersihkan litter box secara reguler [41].

Feline herpes virus
Infeksi feline herpes virus dapat menyebabkan viral rhinotracheitis. Induk kucing yang diinfeksi secara experimen lewat intranasal akan menyebabkan terjadinya abortus, gangguan pada pernafasan dan tidak ada lesi pada plasentanya saat dipreiksa [43]. Vaksinasi pada induk kucing sebelum breeding sangat dianjurkan untuk mencegah terinfeksinya penyakit ini.

Panleukopenia
Panleukopenia atau distemper disebabkan oleh parvovirus. Infeksi virus ini akan menyebabkan abortus atau anak lahir dengan menderita hypoplasia cerebelum, tergantung pada tahap kebuntingannya waktu terjadinya infeksi [33] dan [44]. Panleukopenia dapat dikontrol dengan pemberian vaksinasi sebelum breeding.

Protozoa
Toxoplasma gondii merupakan protozoa yang hospes definitivnya adalah kucing. Kucing yang terinfeksi menyebarkan oocysta yang non infeksi dalam fesesnya. Sista kemudian mengalami sporulasi diluar tubuh kucing dan diingesti oleh hospes intermedier. Kucing terinfeksi karena memakan jaringan hewan yang mengandung sista tadi. Toxoplasmosis pada induk kucing bunting dapat menyebabkan terjadinya penyakit neurologi pada fetus dan biasanya disertai dengan terjadinya abortus serta anak kucing yang terinfeksi secara tranplasenta akan mati sebelum atau setelah lahir [33], [45], dan [46]. Tindakan pencegahan terhadap toxoplasmosis yaitu dengan tidak mengijinkan kucing berburu hewan seperti tikus dan tidak diberi pakan daging mentah [45].

Sebab non-infeksi
Penyebab non-infeksi dari keguguran pada kucing meliputi hypoluteoidisme, abnormalitas kromosom, diet yang tidak tepat dan embriotoxic dan nutrisi untuk induk kucing. Selain itu keguguran dapat juga disebabkan oleh faktor lainnya.

Hypoluteoidisme
Hypoluteoidisme disebabkan karena penghentian fungsi corpus luteum (CL) sebelum waktunya sehingga terjadi penurunan kadaar progesteron dalam darah yang kemudian diikuti dengan pregnancy loss. Corpus luteum merupakan tempat penghasil utama progesteron meskipun bukan satu-satunya tempat untuk sekresi progesteron selama kebuntingan. Yang perlu ditekankan adalah penyebab spontan turunnya dari fungsi CL belum diketahui secara pasti, hal ini dibuktikan dengan hasil sekresi dari uterus tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap fungsi dari CL [49]. Dengan demikian sista endometrial atau penyebab lain dari inflamasi uterus yang akan diikuti dengan releasenya prostaglandin tidak terlibat pada kejadian hypoluteoidisme.

Abnormalitas kromosom
Abnormalitas kromosom pada anak kucing akan menyebabkan terjadi perkembangan gen lethal yang dapat berdampak terjadinya subfertilitas setelah kucing tersebut dewasa [33]. Induk dan kucing pejantan yang menghasilkan keturunan dengan kromosom yang abnormal tidak boleh dikembangbiakan antara satu dengan yang lainnya akan tetapi dapat dikawinkan dengan kucing yang lain

Diet
Diet dapat menyebabkan penurunan performan dari reproduksi pada kucing, seperti malnutrisi dan defisiensi taurin. Kucing kemampuannya dalam mensintesa taurin sangat terbatas oleh karena itu diet akan taurin sangat dibutuhkan. Kucing yang mengalami defisiensi taurin akan mengalami abortus selain itu juga dapat menyebabkan anak kucing lahir dengan berat badan yang rendah [50] dan [51]. Pakan komersial yang sudah mempunyai sertifikat dari American Association of Feed Control Officials (AAFCO) sudah mempunyai kandungan taurin yang cukup.

Faktor lain
Induk kucing bisanya mengalami pregnancy loss tanpa disebab yang jelas. Hasil penelitian dari lima ekor kucing dengan sejarah pernah mengalami pregnancy loss selama masa kebuntingannya menunjukan adanya nekrosis multifokal pada plasentanya yang diikuti dengan kematian fetus dan mengalami autolisis, akan tetapi tidak ada infeksi organisme ataupun proses patologi pada saat diidentifikasi.
Sulit untuk membedakan keguguran pada usia muda dengan kurangnya konsepsi pada induk kucing. Abnormalitas tersebut membuat adanya kebuntingan menjadi tidak diketahui. Pemeriksaan fisik yang lengkap dan diagnosa yang seksama sangat dibutuhkan (Tabel 1). Diagnosa yang pasti tentang masalah ini akan membuat manajemen pada cattery atau perawatan pada induk kucing menjadi lebih baik, sehingga akan meningkatkan fertilitas dari kucing tersebut.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s